Wadah untuk berkumpul dan
berserikat dalam hal Menggali Sejarah dan memajukan kebudayaan merupakan sebuah
komitmen komunitas untuk berkarya demi pembangunan kabupaten di bidang sosial
budaya dan kesejarahan. Selain itu, komunitas juga melihat dari segi bentuk
topografi dan keadaan alam serta iklim Tolitoli serta mitigasi kebencanaan yang
sekarang lagi berkembang di masyarakat . penyebabnya tak lain adalah
bencana-bencana yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini . kondisi ini dapat
di tinjau melalui aspek geologis dan geografinya. Berkaitan dengan kehidupan sosial,
banyak yang bisa mendefinisikan atau menjelaskan mengenai arti dari suatu
komunitas. Terbentuknya sekelompok orang yang saling berinteraksi secara sosial
diantara anggota kelompok itu berdasarkan kesamaan kebutuhan atau tujuan dalam
diri mereka diantara kelompok yang lain. Dengan kata lain terbentuknya
komunitas terjadi dengan sendirinya tanpa ada paksaan malahan dari sebuah
mufakat antara satu orang penggagas ide dengan beberapa pendukung penggagas
tersebut. Suatu komunitas biasa terbentuk karena beberapa individu memiliki
hobi yang sama, tempat tinggal dan ketertarikan yang sama pula.
Pada harfiahnya komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan yang berarti “sama” publik” di bagi kesemua orang atau banyak. Komunitas sebagai sebuah kelompok sosial. Komunitas bisa dikatakan individu-individu di dalamnya dapoat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, prefensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lainnya. Sedangkan Komunitas Menurut Kertajaya Hermawan (2008), adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values. Komunitas adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values (Kertajaya Hermawan, 2008). Komunitas adalah sebuah identifikasi dan interaksi sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional (Soenarno, 2002).
Komunitas Historia Tolitoli (KHTI) Sulawesi Tengah dahulunya bernama Komuitas Pecinta Sejarah (KPS) Dondo-Tolitoli. Berawal dari sebuah ide atau gagasan yang dikembangkan oleh Ketua pendiri pada tahun 2014 untuk membentuk sebuah perkumpulan kecil dalam menggali dan menelusuri kesejarahan yang ada di Dondo dengan tidak menutup kemungkinan tolitoli pada umumnya. Ide atau gagasan ini baru terealisasi pada tahun 2015 dengan melakukan pertemuan dengan dua Pendiri lainnya untuk segera membentuk komunitas yang bertemakan kesejarahan. Pada tanggal 5 Juni 2015 melalui diskusi dan pertemuan antara tiga orang Pendiri dan dua orang elemen pendukung maka ditetapkan berdirinya Komunitas Pecinta Sejarah (KPS) Dondo-Tolitoli yang berkedudukan di Malomba, Kecamatan Dondo dengan agenda awalnya adalah Lawatan Studi Sejarah Kabupaten Tolitoli Tingkat SMP/SMA di Kecamatan Dondo pada bulan Januari 2016.
Pada pertengahan bulan tahun 2016 bertempat di Desa Malomba maka disusunlah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga komunitas serta beberapa orang untuk menduduki jabatan divisi-divisi komunitas yang tertuang dalam Surat Keputusan ditandatangani oleh Pembina/Penasehat Komunitas. Sebelumnya kegiatan Lawatan Studi Sejarah berjalan dengan sukses bahkan ada beberapa peserta Lawatan ini yang dahulunya telah menjadi relawan sekarang menjadi Pengurus cabang Komunitas Historia Tolitoli yang berkedudukan di Palu. Pertengahan bulan Tahun 2017 jalannya komunitas mulai mengalami beberapa rintangan dan hambatan serta beberapa hal. Tak dapat dipungkiri dari segi keberagaman berpikir para pendiri tentunya banyak mengalami benturan demi benturan. Maka Ketua Pendiri Komunitas yang pada saat itu menduduki Posisi Ketua Komunitas memutuskan untuk membubarkan Komunitas untuk segera dilakukan pertemuan guna membahas nama komunitas yang baru.
Pada bulan Oktober Tahun 2017 para Pendiri kembali melakukan pertemuan untuk membahas mengenai penamaan komunitas yang beberapa bulan yang lalu telah di bubarkan. Para pendiri bersepakat untuk mengubah wilayah kerja komunitas menjadi skala kabupaten. Setelah itu pada tanggal 10 November 2017 kembali dilaksanakan pemberian kembali nama (bukan pembentukan baru) menjadi Komunitas Historia Tolitoli (KHTI) Sulawesi Tengah yang berkedudukan di Malomba dan Kecamatan Baolan. Pemberian Nama dan penyegaran Komunitas ini adalah hasil Diskusi dan pertemuan 4 orang Pendiri diantaranya (Moh. Zasriansyah, S.Pd (Ketua), Ardiansyah Dwi Putra, S.K.M (Anggota), Moh. Taufik, S.Pd (Anggota) dan Moh. Idris, S.Pd (Anggota). Dengan agenda kerja pertama adalah Lawatan Sejarah Mengenal Perjuangan Rakyat Malomba Hasil Kerjasama KHTI dengan SMPN 2 Dondo pada November 2017.
Pada Tahun 2018 Ketua Pendiri
kembali mengambil Jabatan Ketua Pengurus KHTI dengan mengganti beberapa
nama-nama yang dirasa kurang aktif lagi untuk beberapa bulan ke depannya.
Setelah pengambil alihan tersebut Komunitas mendapat sebuah Undangan untuk Ikut
serta dalam Kongres Nasional Komunitas Sejarah Se-Indonesia. Beberapa bulan setelah kongres komunitas
tersebut kembali membenahi struktur komunitas hingga sekarang ini berdasarkan
Berita Acara dan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga hasil revisi pada bulan
Januari 2019. Peraturan-Peraturan
Komunitas yang menyangkut tentang keanggotaan disusun oleh Dewan Pendiri.
Sejarah dan budaya adalah dua hal
yang tidak dapat dipisahkan karena satu sama lain saling beriringan, keduanya
muncul bersamaan seiring dengan keberlangsungan kehidupan. Sejarah merupakan
pemandu bagi kita untuk melangkah ke masa depan. Karena sejarah memberikan
pengalaman dan mengajarkan kearifan serta kebijaksanaan. Sejarah adalah bentuk
eksistensi keberadaan sebuah kebudayaan suatu bangsa dan Negara. Sejarah bukan
hanya cerita masa lalu yang using yang kemudian ditinggalkan. Sejarah melekat
dalam kepribadian bangsa pada saat ini. Oleh karena itu melalui sejarah, suatu
bangsa dapat berjalan ke depan dengan mengacu pada pengalaman-pengalaman masa
lampau menuju kearah yang lebih baik.
Susunan Kepengurusan Komunitas
hasil revisi November 2017 adalah sebagai berikut, Pendiri/Pembina, Penasehat,
Badan Pengurus, Divisi-Divisi yakni, Sejarah Parawisata DAN Advokasi, Cagar
budaya Litbang dan Biro Petugas Lapangan, Literasi Sejarah Budaya, Wilayah Palu
Sulteng Hub. Antar Lembaga dan Penguatan Kerjasama dan Simpatisan/Member
gathering. Kemudian mengalami revisi kembali berdasarkan ketentuan pendiri
komunitas pada tanggal 15 September 2019 menjadi susunan yang lebih terarah
dengan membentuk cabang-cabang komunitas guna mengembangkan kreativitas anggota
komunitas dalam berkarya dan berkreasi.
Adapun susunan Pengurus Central
yang berkedudukan di Malomba dan Kecamatan Baolan terdiri dari Pendiri/Pembina,
Penasehat dan Pengurus diantaranya Ketua, Sekretaris dan Bendahara dibantu oleh
divisi-divisi sebagai berikut, Divisi Sejarah, Cagar Budaya dan Parawisata,
Divisi Jelajah/Eksplorer Member Gathering dan Pengawas Komunitas Cabang yang
ada di Tolitoli, Divisi relasi media, Dokumentasi dan Kearsipan, Divisi
Hubungan Kerjasama Penguatan Lembaga dan Pengawas komunitas Cabang Palu, Divisi
Humas dan Infokom. Kemudian Untuk masing-masing cabang memiliki Ketua beserta
anggotanya (Hasil Revisi 15 September 2019)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar