Kamis, 26 Agustus 2021

MENGENAL KOMUNITAS HISTORIA TOLITOLI (KHTI) SULAWESI TENGAH




Wadah untuk berkumpul dan berserikat dalam hal Menggali Sejarah dan memajukan kebudayaan merupakan sebuah komitmen komunitas untuk berkarya demi pembangunan kabupaten di bidang sosial budaya dan kesejarahan. Selain itu, komunitas juga melihat dari segi bentuk topografi dan keadaan alam serta iklim Tolitoli serta mitigasi kebencanaan yang sekarang lagi berkembang di masyarakat . penyebabnya tak lain adalah bencana-bencana yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini . kondisi ini dapat di tinjau melalui aspek geologis dan geografinya. Berkaitan dengan kehidupan sosial, banyak yang bisa mendefinisikan atau menjelaskan mengenai arti dari suatu komunitas. Terbentuknya sekelompok orang yang saling berinteraksi secara sosial diantara anggota kelompok itu berdasarkan kesamaan kebutuhan atau tujuan dalam diri mereka diantara kelompok yang lain. Dengan kata lain terbentuknya komunitas terjadi dengan sendirinya tanpa ada paksaan malahan dari sebuah mufakat antara satu orang penggagas ide dengan beberapa pendukung penggagas tersebut. Suatu komunitas biasa terbentuk karena beberapa individu memiliki hobi yang sama, tempat tinggal dan ketertarikan yang sama pula.

Pada harfiahnya komunitas berasal dari bahasa latin communitas yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan yang  berarti “sama” publik” di bagi kesemua orang atau banyak. Komunitas sebagai sebuah kelompok sosial. Komunitas bisa dikatakan individu-individu di dalamnya dapoat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, prefensi, kebutuhan, risiko dan sejumlah kondisi lainnya. Sedangkan Komunitas Menurut Kertajaya Hermawan (2008), adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values. Komunitas adalah sekelompok orang yang saling peduli satu sama lain lebih dari yang seharusnya, dimana dalam sebuah komunitas terjadi relasi pribadi yang erat antar para anggota komunitas tersebut karena adanya kesamaan interest atau values (Kertajaya Hermawan, 2008). Komunitas adalah sebuah identifikasi dan interaksi sosial yang dibangun dengan berbagai dimensi kebutuhan fungsional (Soenarno, 2002).

Komunitas Historia Tolitoli (KHTI) Sulawesi Tengah dahulunya bernama Komuitas Pecinta Sejarah (KPS) Dondo-Tolitoli. Berawal dari sebuah ide atau gagasan yang dikembangkan oleh Ketua pendiri pada tahun 2014 untuk membentuk sebuah perkumpulan kecil dalam menggali dan menelusuri kesejarahan yang ada di Dondo dengan tidak menutup kemungkinan tolitoli pada umumnya. Ide atau gagasan ini baru terealisasi pada tahun 2015 dengan melakukan pertemuan dengan dua Pendiri lainnya untuk segera membentuk komunitas yang bertemakan kesejarahan. Pada tanggal 5 Juni 2015 melalui diskusi dan pertemuan antara tiga orang Pendiri dan dua orang elemen pendukung maka ditetapkan berdirinya Komunitas Pecinta Sejarah (KPS) Dondo-Tolitoli yang berkedudukan di Malomba, Kecamatan Dondo dengan agenda awalnya adalah Lawatan Studi Sejarah Kabupaten Tolitoli Tingkat SMP/SMA di Kecamatan Dondo pada bulan Januari 2016.

Pada pertengahan bulan tahun 2016 bertempat di Desa Malomba maka disusunlah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga komunitas serta beberapa orang untuk menduduki jabatan divisi-divisi komunitas yang tertuang dalam Surat Keputusan ditandatangani oleh Pembina/Penasehat Komunitas. Sebelumnya kegiatan Lawatan Studi Sejarah berjalan dengan sukses bahkan ada beberapa peserta Lawatan ini yang dahulunya telah menjadi relawan sekarang menjadi Pengurus cabang Komunitas Historia Tolitoli yang berkedudukan di Palu. Pertengahan bulan Tahun 2017 jalannya komunitas mulai mengalami beberapa rintangan dan hambatan serta beberapa hal. Tak dapat dipungkiri dari segi keberagaman berpikir para pendiri tentunya banyak mengalami benturan demi benturan. Maka Ketua Pendiri Komunitas yang pada saat itu menduduki Posisi Ketua Komunitas memutuskan untuk membubarkan Komunitas untuk segera dilakukan pertemuan guna membahas nama komunitas yang baru. 

Pada bulan Oktober Tahun 2017 para Pendiri kembali melakukan pertemuan untuk membahas mengenai penamaan komunitas yang beberapa bulan yang lalu telah di bubarkan. Para pendiri bersepakat untuk mengubah wilayah kerja komunitas menjadi skala kabupaten. Setelah itu pada tanggal 10 November 2017 kembali dilaksanakan pemberian kembali nama (bukan pembentukan baru) menjadi Komunitas Historia Tolitoli (KHTI) Sulawesi Tengah yang berkedudukan di Malomba dan Kecamatan Baolan.  Pemberian Nama dan penyegaran Komunitas ini adalah hasil Diskusi dan pertemuan 4 orang Pendiri diantaranya (Moh. Zasriansyah, S.Pd (Ketua), Ardiansyah Dwi Putra, S.K.M (Anggota), Moh. Taufik, S.Pd (Anggota) dan Moh. Idris, S.Pd (Anggota). Dengan agenda kerja pertama adalah Lawatan Sejarah Mengenal Perjuangan Rakyat Malomba Hasil Kerjasama KHTI dengan SMPN 2 Dondo pada November 2017.

Pada Tahun 2018 Ketua Pendiri kembali mengambil Jabatan Ketua Pengurus KHTI dengan mengganti beberapa nama-nama yang dirasa kurang aktif lagi untuk beberapa bulan ke depannya. Setelah pengambil alihan tersebut Komunitas mendapat sebuah Undangan untuk Ikut serta dalam Kongres Nasional Komunitas Sejarah Se-Indonesia.  Beberapa bulan setelah kongres komunitas tersebut kembali membenahi struktur komunitas hingga sekarang ini berdasarkan Berita Acara dan Anggaran Dasar dan Rumah Tangga hasil revisi pada bulan Januari 2019. Peraturan-Peraturan Komunitas yang menyangkut tentang keanggotaan disusun oleh Dewan Pendiri. 

Sejarah dan budaya adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan karena satu sama lain saling beriringan, keduanya muncul bersamaan seiring dengan keberlangsungan kehidupan. Sejarah merupakan pemandu bagi kita untuk melangkah ke masa depan. Karena sejarah memberikan pengalaman dan mengajarkan kearifan serta kebijaksanaan. Sejarah adalah bentuk eksistensi keberadaan sebuah kebudayaan suatu bangsa dan Negara. Sejarah bukan hanya cerita masa lalu yang using yang kemudian ditinggalkan. Sejarah melekat dalam kepribadian bangsa pada saat ini. Oleh karena itu melalui sejarah, suatu bangsa dapat berjalan ke depan dengan mengacu pada pengalaman-pengalaman masa lampau menuju kearah yang lebih baik.

 

Susunan Kepengurusan Komunitas hasil revisi November 2017 adalah sebagai berikut, Pendiri/Pembina, Penasehat, Badan Pengurus, Divisi-Divisi yakni, Sejarah Parawisata DAN Advokasi, Cagar budaya Litbang dan Biro Petugas Lapangan, Literasi Sejarah Budaya, Wilayah Palu Sulteng Hub. Antar Lembaga dan Penguatan Kerjasama dan Simpatisan/Member gathering. Kemudian mengalami revisi kembali berdasarkan ketentuan pendiri komunitas pada tanggal 15 September 2019 menjadi susunan yang lebih terarah dengan membentuk cabang-cabang komunitas guna mengembangkan kreativitas anggota komunitas dalam berkarya dan berkreasi.

 

Adapun susunan Pengurus Central yang berkedudukan di Malomba dan Kecamatan Baolan terdiri dari Pendiri/Pembina, Penasehat dan Pengurus diantaranya Ketua, Sekretaris dan Bendahara dibantu oleh divisi-divisi sebagai berikut, Divisi Sejarah, Cagar Budaya dan Parawisata, Divisi Jelajah/Eksplorer Member Gathering dan Pengawas Komunitas Cabang yang ada di Tolitoli, Divisi relasi media, Dokumentasi dan Kearsipan, Divisi Hubungan Kerjasama Penguatan Lembaga dan Pengawas komunitas Cabang Palu, Divisi Humas dan Infokom. Kemudian Untuk masing-masing cabang memiliki Ketua beserta anggotanya (Hasil Revisi 15 September 2019)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Olongian Kaleolangi dan Ogoamas

  Beliau tinggal dan menetap di Bou   yang pada zaman dahulu merupakan pemukiman masyarakat. Olongian ini terlahir dengan kesederhanaan beli...